2010 in review

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads This blog is doing awesome!.

Crunchy numbers

Featured image

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 1,500 times in 2010. That’s about 4 full 747s.

 

In 2010, there were 5 new posts, growing the total archive of this blog to 7 posts. There were 32 pictures uploaded, taking up a total of 16mb. That’s about 3 pictures per month.

The busiest day of the year was August 18th with 28 views. The most popular post that day was Surat ke PT. Masa Kreasi.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were google.co.id, facebook.com, legokpermai07.wordpress.com, batupermataimpian.blogspot.com, and mail.yahoo.com.

Some visitors came searching, mostly for medang lestari, permata medang, medang lestari tangerang, masa kreasi, and blog medang lestari.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Surat ke PT. Masa Kreasi August 2008

2

Tanggapan Surat PT Masa Kreasi August 2008
5 comments

3

Draft Pernyataan Menyikapi Jalan Raya Legok Tangerang June 2009
9 comments

4

About August 2008
11 comments

5

News : Masa Kreasi August 2008

Rumah Tandus

Sabtu, 18/12/2010 12:12 WIB

Oleh Fiyan “Anju” Arjun

Rasyid termangu di teras rumahnya. Mata kecilnya masih nanar ke luar jalan sepetak. Tatapannya masih kosong. Entah apa yang dipikirkan oleh anak seusianya tak seorang pun tahu, apalagi orang rumah. Hanya anak usia 10 tahun itu saja yang tahu. Apa yang sedang mengelayuti benaknya saat itu. Hanya ia seorang.

Ia masih tetap pada posisinya. Termangu, di teras rumahnya. Walau saat itu hujan rintik-rintik sudah mulai berirama di atap rumahnya. Tik…tik…tik…tik…tik…
“Ayo, acungi telunjuk siapa yang di rumahnya punya al-qur’an?” ujar Kak Awwam, guru ngaji kampung bertanya kepada murid-muridnya di teras rumahnya yang luas. Dan dari jumlah 9 muridnya itu salah satunya adalah Rasyid. Ia sudah 5 bulan mengaji.
Kak Awwam, begitu Rasyid memanggil guru ngajinya dengan sapaan seperti itu maupun teman-teman sepengajiannya.

“Saya, Kak! Saya di rumah punya dua!” sahut Sukri salah satu muridnya bertubuh bongsor yang akhirnya berani angkat bicara juga. Menjawab pertanyaan guru ngajinya itu sambil mengacungi jari telujuknya yang bulat.

“Soleha juga, Kak! Tapi punya Abi!” timpal Soleha, yang selalu bekudung putih itu menimpali Sukri.

“Ghofar juga punya, kok, Kak!”

“Iya, Rohim juga punya tapi satu, Kak.”

“Iya, siapa lagi?” lanjutnya menanyakan kembali kepada murid-murid yang menggemaskan itu.

“Iya! Shabrina juga punya kok di rumah malah masih bagus!”

Kak Awwam hanya tersenyum sesaat saat mendengar jawaban polos Shabrina, muridnya yang doyan bertanya itu

“Ihsan juga punya, Kak! Walau yang punya bukan Ihsan tapi Kak Santi. Ihsan sering kok lihat Kak Santi bawa Al-Qur’an ke sekolah.”

“Kalau kami berdua Kak punya satu-satu. Itu juga baru dibeli sama Ummi di toko buku. Itu kalau nanti Asma dan Aska sudah khatam,” koor serentak kembar indentik Asma dan Aska tak mau kalah.

Semua pun serempak berucap menjawab pertanyaan guru ngajinya yang masih sangat muda. Bertampang cute. Berkumis tanggung. Serta beraksesori kacamata minus yang berdiri di cuping hidungnya itu.

Sebagai guru ngaji di kampung Kak Awwam harus peduli dan mengetahui perkembangan anak-anak didiknya. Dan juga memberikan perhatian serta pengarahan sesuai usia murid-muridnya itu. Apalagi ia sangat sayang dengan anak-anak. Pun itu semua ia jalani hampir satu tahun lebih. Walau pun ia mengajar tanpa bayaran dari murid-muridnya. Ia ikhlas menjalaninya. Apalagi ia jebolan ponpes modern ternama di luar Jawa.

Kalau pun ada sebagian orangtua dari murid-muridnya membayar ia pun tak segan-segan menolaknya. Bukan! Bukan! Bukan, menolak rezeki tapi ia ingin mengamalkan ilmu yang sudah didapatinya dari pondok. Apalagi ia sudah senang ketika anak-anak kecil yang ada di kampungnya itu sudah bisa mengenal Alif lepeng, Ba bengkok, Ta, titiknya dua di atas dan Tsa, titiknya tiga di atas serta Nun, titiknya satu di bawah. Lagi-lagi ia sudah sangat senang. Itulah tujuannya ia mondok dari ponpes—yang para jebolannya sudah banyak menjadi para mubaligh ternama serta pejabat itu.

Namun dari sekian murid-murid yang ia ajarkan mengaji hanya ada satu murid yang tak mau menjawab pertanyaannya itu. Tak lain Rasyid. Terlebih pada saat itu (pertanyaan yang dilontarkannya) ia hanya berdiam diri. Tak satu pun ucapan yang keluar dari mulut kecilnya.

Rasyid tak mau ikut-ikutan teman-teman sepengajiannya, menjawab apa yang dilontarkan oleh guru ngajinya itu. Ia lebih baik diam. Pasif. Tak bicara.

“Lho, kok Rasyid diam. Memangnya ada apa?” tanya guru mengajinya itu. “Rasyid, sakit?” lanjut guru ngajinya yang masih berusia 27 tahun bertanya kembali.

“Ah, nggak kok, Kak!” tukas Rasyid singkat.

“Terus kenapa nggak menjawab pertanyaan, Kakak?”
Yang ditanya hanya diam. Tak tahu harus bicara apa.

“Baiklah sekarang Kakak tanya lagi di rumah Rasyid punya al-qur’an tidak?” Dengan bijak laki-laki muda yang sering menjuarai MTQ itu bertanya kembali sekali lagi kepada muridnya itu.

Rasyid, bimbang untuk menjawabnya. Akhirnya jalan untuk menghindari cecaran pertanyaan itu yang terus-menerus mengarah kepadanya ia pun buka suara juga. Walau ada rasa sungkan menghinggap dalam dirinya.

“Ra-Rasyid di rumah tidak punya al-qur’an, Kak!” ucapnya perlahan-lahan agar teman-teman sepengajiannya itu tidak mendengar jawabannya. Tapi namanya anak-anak tetap saja selalu memerhatikan temannya jika terlihat ada yang ganjil atau hal-hal yang tak biasa. Dan itu ada di Rasyid. Murid yang masuk mengajinya paling akhir.

“Ha-ha-ha-ha-ha. Masa sih orang Islam tidak punya al-qur’an.”

Begitulah riuh suara teman-teman sepengajiannya menertawainya ketika mengetahui Rasyid berkata demikian. Di rumahnya ia tidak memiliki al-qur’an, mukjizat dari kanjeng Rasulullah itu. Semua teman-teman sepengajiannya masih mentertawainya.
“Sudah! Sudah kok malah ditertawai. Baik sekarang kita baca do’a selesai mengaji. Ayo, kamu Sukri pimpin doanya…”

Akhirnya Kak Awwam menyudahi pertanyaan itu dengan menyuruh Sukri membaca doa usai mengaji. Walau mata minusnya masih tertuju ke arah muridnya itu, Rasyid. Khawatir ada sesuatu yang disembunyikan oleh muridnya itu.

Dan itu jugalah yang menjadi alasan Rasyid termangu di teras rumahnya. Ia tak mau menjadi bahan tertawaan teman-teman sepengajiannya itu kembali. Menggema kembali di gendang telinganya. Ia lebih baik berhenti mengaji. Mengundurkan dari pengajian yang sudah ikuti selama 5 bulan ia lewati. Walau pun ia sebentar lagi akan khatam juz’ amma. Surat At-Thariq, begitu bacaan terakhirnya. Karena ia malu ketika nanti kembali ditanya oleh Kak Awwam, guru mengajinya itu apakah memiliki al-qur-an atau tidak di rumah.

Jalan pintasnya ia pun berpikir untuk memilih keluar tanpa sepengetahuan Ayahnya.
Sebenarnya saat itu ia memang berkata tidak jujur. Ia menutupi kebenaran yang ada bahwa di rumahnya ternyata memiliki al-qur’an. Bukan hanya satu tapi lima buah.

Baik yang besar maupun yang ukuran kecil—yang bisa dibawa-bawa. Tapi ia tak mengatakan hal itu sebenarnya. Entah kenapa anak usia 10 tahun itu tak mau berkata semestinya. Jujur. Namun hanya ia sendiri yang tahu.

**

Begitulah Rasyid. Ia memang murid yang berbeda dari teman-teman sepengajiannya. Walau usianya baru menginjak 10 tahun dan duduk dibangku kelas 5 SD tapi cara berpikirnya amat sangat diluar dugaan. Dan tidak lumrah sesuai usianya. Ia begitu kritis dan juga keingintahuannya sangat besar. Apalagi otaknya yang cukup cemerlang di sekolahnya. Ia seringkali menjadi juara kelas selama tiga tahun berturut-turut.

Itulah yang dirasakan oleh Ayahnya. Pak Zubair, begitu nama Ayahnya bila disapa. Apalagi Ayahnya itu pun sering kali mendapatkan surat dari pihak sekolah agar Rasyid anaknya itu diberi izin untuk mengikuti ajang cerdas cermat tingkat SD. Entah, Ayahnya pun tak tahu anaknya itu menuruni siapa. Tetapi ketika Ayahnya balik melihat ke belakang nasab keturunan dari orangtuanya yang telah tiada. Ternyata Rasyid menuruni kakeknya—yang memang miliki kecerdasan diatas rata-rata. Ber-IQ tinggi. Kakeknya dulu seorang guru Madrasah Tsanawiyah di kampung.

Itu pun yang dirasakan Ayahnya saat itu. Tanpa sepengetahuan Rasyid, guru ngajinya itu pun berkunjung ke rumah dan menemui Ayahnya. Kebenaran saat itu ada di rumah dan sedang libur kerja. Pun dengan Rasyid sedang keluar bermain dengan teman-temannya. Ia tak tahu kalau guru ngajinya itu bertandang ke rumahnya.

Saat senja mulai menua di ufuk barat barulah guru ngaji Rasyid itu menemui Ayahnya. Namun guru ngaji jebolan ponpes modern itu tak lama berpijak di rumah yang cukup asri itu.

Namun disaat yang sama seusai pulang bermain bersama teman-temannya itu Rasyid pun dipanggil oleh Ayahnya. Ayahnya seorang abdi pemerintah itu. Sekel. Sekretaris Kelurahan. Walau hanya berselang beberapa menit dari kepulangan guru ngajinya dari rumah. Tanpa banyak kata Ayahnya pun memberitahukan apa yang sudah dikatakan oleh guru ngajinya itu selama Rasyid tak ada di rumah. Padahal hal itu terjadi tiga hari yang lalu bersamaan ia tak mengaji.

Ia membohongi Ayahnya dengan alasan mengaji tapi kenyataan malah main bersama teman-temannya. Sebenarnya ia sudah sedikit demi sedikit untuk mulai melupakan hal itu. Karena baginya lebik baik dilupakan ketimbang diingat selalu dan itu akan membuat ia semakin malu pada dirinya, agamanya maupun TuhanNya padahal ia hanyalah seorang anak bau kencur. Belum akil baligh.

“Tadi guru ngaji kamu kemari. Ia bilang kamu sudah tiga hari tidak mengaji. Dan bukan itu saja kamu berkata tidak jujur. Kamu bilang di rumah kita ini tidak punya sama sekali al-qur’an. Padahal kenyataanya ada. Bahkan sampai 5 buah yang sering Bapak belikan buat kamu maupun Abang Ramdan, kakak kamu maupun Ibu kamu. Tapi kenapa kamu bilang tidak ada,” tegur Ayahnya di ruang tamu.

Rasyid yang ditanya seperti itu hanya diam. Tak bicara.

“Kok diam?! Tidak boleh kalau orangtua bicara lalu kamu diam saja. Ayolah bicara yang sebenarnya. Ayah tidak akan memarahi kamu kok jika kamu berkata sejujurnya,” ulang Ayahnya memberikan kebijakan.

“Baiklah Ayah akan diam saja jika kamu masih bersikeras tak mau bicara jujur kepada Ayah. Apa yang terjadi sebenarnya.”

Dan beberapa jam kemudian suasana pun hening di ruang tamu.

Tapi itu hanya sementara akhirnya Rasyid angkat bicara juga.

“Memang benar Rasyid sudah tidak mengaji tiga hari. Dan bicara tidak jujur seperti itu, Yah. Rasyid bilang bahwa di rumah kita tidak punya al-qur’an. Walau sebenarnya punya. Tapi buat apa bila kita punya tapi kita sebagai orang Islam tak pernah menyentuhnya bahkan membacanya. Bukankah berarti kita sama saja tidak memilikinya. Tidak mempunyai,” jawab Rasyid polos. Entah darimana ia mendapatkan jawaban seperti itu yang tidak wajar untuk seusianya. Entahlah! Namun itulah dunia anak-anak seusianya. Tak seorang pun pantas untuk mencegah apalagi ikut mencampurinya

Ayahnya sejenak diam. Apa yang dikatakan anakya itu ada benarnya juga. Betapa ia malu pada dirinya, agamaNya maupun anaknya ketika ia mendengar jawaban polos dari anak usia 10 tahun itu. Kalau ia boleh memilih ingin mencium kening anaknya itu yang sudah membuka mata hatinya. Memang benar apa yang dikatakan anaknya itu. Al-qur’an memang ada di rumahnya. Bahkan ada yang pernah ia dapatkan dari rekannya sepulang dari umrah kedua kalinya. Tapi sayang hanya dibuat pajangan serta simbol saja. Padahal jika ia mau mengingat kembali ketika saat menghadiri pengajian di masjid terdekat dari rumahnya. Ia bisa mengetahuinya lebih dalam lagi ketika saat itu ada seorang ustadz memberikan siraman rohani.

”Perumpamaan orang Mu’min yang membaca Al Quran, adalah seperti bunga utrujjah, baunya harum dan rasanya lezat; orang Mu’min yang tak suka membaca Al Quran, adalah seperti buah korma, baunya tidak begitu harum, tetapi manis rasanya; orang munafiq yang membaca Al Quran ibarat sekuntum bunga, berbau harum, tetapi pahit rasanya; dan orang munafiq yang tidak membaca Al Quran, tak ubahnya seperti buah hanzalah, tidak berbau dan rasanya pahit sekali.”


”Kepada kaum yang suka berjamaah di rumah-rumah peribadatan, membaca Al Quran secara bergiliran dan ajar megajarkannya terhadap sesamanya, akan turunlah kepadanya ketenangan dan ketenteraman, akan berlimpah kepadanya rahmat dan mereka akan dijaga oleh malaikat, juga Allah akan mengingat mereka”

Entah, saat itu ia tertidur atau tidak. Saat ustadz itu sedang membahas keutamaan al-qur’an tak seorang pun yang tahu. Tapi dengan perantara Rasyid anaknya itu, ia kini kembali dibukakan mata hatinya tentang keutamaan al-qur’an. Apalagi ia tak ingin rumah yang sudah dibangunnya—dengan jerih payahnya sendiri secara halal menjadi tandus. Kering kerontang seperti pohon tak pernah diterpa hujan. Pun dengan istananya, ia ingin mendapatkan kesejukan dari lantunan ayat-ayat suci yang digemakan dari mulutnya, istrinya maupun Ramdan dan Rasyid sebagai anak-anaknya.
Lagi-lagi ruang tamu kembali sepi.
Rasyid yang saat itu ada dihadapan Ayahnya tak percaya jika tiba-tiba Ayahnya memdadak membisu. Tak tahu apa yang harus semestinya dikatakannya lagi.[]

Tanah Betawi—Ulujami, 13 Desember 2010

Keterangan:
1. Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim

2. Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Hurairah

Powered By http://www.eramuslim.com/

Kemiskinan Itu Ujian Allah!

 

Punya pendidikan tinggi merupakan impian tiap orang. Tapi, bagaimana jika kemiskinan terus menghadang. Jangankan untuk biaya kuliah, buat makan saja susah.

Berikut ini penelusuran dan wawancara Eramuslim dengan seorang pemulung yang kini bisa terus kuliah di jurusan akuntansi di Pamulang, Tangerang. Mahasiswi berjilbab itu bernama Ming Ming Sari Nuryanti.

Sudah berapa lama Ming Ming jadi pemulung?

Sejak tahun 2004. Waktu itu mau masuk SMU. Karena penghasilan ayah semakin tidak menentu, kami sekeluarga menjadi pemulung.

Sekeluarga?

Iya. Setiap hari, saya, ayah, ibu, dan lima adik saya berjalan selama 3 sampai 4 jam mencari gelas mineral, botol mineral bekas, dan kardus. Kecuali adik yang baru kelas 2 SD yang tidak ikut.

***

Tempat tinggal Ming Ming berada di perbatasan antara Bogor dan Tangerang. Tepatnya di daerah Rumpin. Dari Serpong kurang lebih berjarak 40 kilometer. Kawasan itu terkenal dengan tempat penggalian pasir, batu kali, dan bahan bangunan lain. Tidak heran jika sepanjang jalan itu kerap dipadati truk dan suasana jalan yang penuh debu. Di sepanjang jalan itulah keluarga pemulung ini memunguti gelas dan botol mineral bekas dengan menggunakan karung.

Tiap hari, mereka berangkat sekitar jam 2 siang. Pilihan jam itu diambil karena Ming Ming dan adik-adik sudah pulang dari sekolah. Selain itu, bertepatan dengan jam berangkat sang ayah menuju tempat kerja di kawasan Ancol.

Setelah berjalan selama satu setengah sampai dua jam, sang ayah pun naik angkot menuju tempat kerja. Kemudian, ibu dan enam anak itu pun kembali menuju rumah. Sepanjang jalan pergi pulang itulah, mereka memunguti gelas dan botol mineral bekas.

Berapa banyak hasil yang bisa dipungut?

Nggak tentu. Kadang-kadang dapat 3 kilo. Kadang-kadang, nggak nyampe sekilo. Kalau cuaca hujan bisa lebih parah. Tapi, rata-rata per hari sekitar 2 kiloan.

Kalau dirupiahkan?

Sekilo harganya 5 ribu. Jadi, per hari kami dapat sekitar 10 ribu rupiah.

Apa segitu cukup buat 9 orang per hari?

Ya dicukup-cukupin. Alhamdulillah, kan ada tambahan dari penghasilan ayah. Walau tidak menentu, tapi lumayan buat keperluan hidup.

***

Ming Ming menjelaskan bahwa uang yang mereka dapatkan per hari diprioritaskan buat makan adik-adik dan biaya sekolah mereka. Sementara Ming Ming sendiri sudah terbiasa hanya makan sekali sehari. Terutama di malam hari.

Selain itu, mereka tidak dibingungkan dengan persoalan kontrak rumah. Karena selama ini mereka tinggal di lahan yang pemiliknya masih teman ayah Ming Ming. Di tempat itulah, mereka mendirikan gubuk sederhana yang terbuat dari barang-barang bekas yang ada di sekitar.

Berapa hari sekali, pengepul datang ke rumah Ming Ming untuk menimbang dan membayar hasil pungutan mereka.

Kalau lagi beruntung, mereka bisa dapat gelas dan botol air mineral bekas di tempat pesta pernikahan atau sunatan. Sayangnya, mereka harus menunggu acara selesai. Menunggu acara pesta itu biasanya antara jam 9 malam sampai jam 2 pagi. Selama 5 jam itu, Ming Ming sebagai anak sulung, ibu dan dua adiknya berkantuk-kantuk di tengah keramaian dan hiruk pikuk pesta.

Kalau di hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, keluarga pemulung ini juga punya kebiasaan yang berbeda dengan keluarga lain. Mereka tidak berkeliling kampung, berwisata, dan silaturahim ke handai taulan. Mereka justru memperpanjang rute memulung, karena biasanya di hari raya itu, barang-barang yang mereka cari tersedia lebih banyak dari hari-hari biasa.

Ming Ming tidak malu jadi pemulung?

Awalnya berat sekali. Apalagi jalan yang kami lalui biasa dilalui teman-teman sekolah saya di SMU N 1 Rumpin. Tapi, karena tekad untuk bisa membiayai sekolah dan cinta saya dengan adik-adik, saya jadi biasa. Nggak malu lagi.

Dari mana Ming Ming belajar Islam?

Sejak di SMU. Waktu itu, saya ikut rohis. Di rohis itulah, saya belajar Islam lewat mentoring seminggu sekali yang diadakan sekolah.

Ketika masuk kuliah, saya ikut rohis. Alhamdulillah, di situlah saya bisa terus belajar Islam.

Orang tua tidak masalah kalau Ming Ming memakai busana muslimah?

Alhamdulillah, nggak. Mereka welcome saja. Bahkan sekarang, lima adik perempuan saya juga sudah pakai jilbab.

***

Walau sudah mengenakan busana muslimah dengan jilbab yang lumayan panjang, Ming Ming dan adik-adik tidak merasa risih untuk tetap menjadi pemulung. Mereka biasa membawa karung, memunguti gelas dan botol air mineral bekas, juga kardus. Bahkan, Ming Ming pun sudah terbiasa menumpang truk. Walaupun, ia harus naik di belakang.

Ming Ming kuliah di mana?

Di Universitas Pamulang, Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi S1.

Maaf, apa cukup pendapatan Ming Ming untuk biaya kuliah?

Jelas nggak. Tapi, buat saya, kemiskinan itu ujian dari Allah supaya kita bisa sabar dan istiqamah. Dengan tekad itu, saya yakin bisa terus kuliah.

Walaupun, di semester pertama, saya nyaris keluar. Karena nggak punya uang buat biaya satu semester yang jumlahnya satu juta lebih. Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah semuanya bisa terbayar.

***

Di awal-awal kuliah, muslimah kelahiran tahun 90 ini memang benar-benar melakukan hal yang bisa dianggap impossible. Tanpa uang memadai, ia bertekad kuat bisa masuk kuliah.

Ketika berangkat kuliah, sang ibu hanya memberikan ongkos ke Ming Ming secukupnya. Artinya, cuma ala kadarnya. Setelah dihitung-hitung, ongkos hanya cukup untuk pergi saja. Itu pun ada satu angkot yang tidak masuk hitungan alias harus jalan kaki. Sementara pulang, ia harus memutar otak supaya bisa sampai ke rumah. Dan itu ia lakukan setiap hari.

Sebagai gambaran, jarak antara kampus dan rumah harus ditempuh Ming Ming dengan naik empat kali angkot. Setiap angkot rata-rata menarik tarif untuk jarak yang ditempuh Ming Ming sekitar 3 ribu rupiah. Kecuali satu angkot di antara empat angkot itu yang menarik tarif 5 ribu rupiah. Karena jarak tempuhnya memang maksimal. Jadi, yang mesti disiapkan Ming Ming untuk sekali naik sekitar 14 ribu rupiah.

Di antara trik Ming Ming adalah ia pulang dari kuliah dengan berjalan kaki sejauh yang ia kuat. Sambil berjalan pulang itulah, Ming Ming mengeluarkan karung yang sudah ia siapkan. Sepanjang jalan dari Pamulang menuju Serpong, ia melepas status kemahasiswaannya dan kembali menjadi pemulung.

Jadi, jangankan kebayang untuk jajan, makan siang, dan nongkrong seperti mahasiswa kebanyakan; bisa sampai ke rumah saja bingungnya bukan main.

Sekarang apa Ming Ming masih pulang pergi dari kampus ke rumah dan menjadi pemulung sepulang kuliah?

Saat ini, alhamdulillah, saya dan teman-teman UKM Muslim (Unit Kegiatan Mahasiswa Muslim) sudah membuat unit bisnis. Di antaranya, toko muslim. Dan saya dipercayakan teman-teman sebagai penjaga toko.

Seminggu sekali saya baru pulang. Kalau dihitung-hitung, penghasilannya hampir sama.

Jadi Ming Ming tidak jadi pemulung lagi?

Tetap jadi pemulung. Kalau saya pulang ke rumah, saya tetap memanfaatkan perjalanan pulang dengan mencari barang bekas. Bahkan, saya ingin sekali mengembangkan bisnis pemulung keluarga menjadi tingkatan yang lebih tinggi. Yaitu, menjadi bisnis daur ulang. Dan ini memang butuh modal lumayan besar.

Cita-cita Ming Ming?

Saya ingin menjadi da’i di jalan Allah. Dalam artian, dakwah yang lebih luas. Bukan hanya ngisi ceramah, tapi ingin mengembangkan potensi yang saya punya untuk berjuang di jalan Allah. (MN)

Doa Akhir dan Awal Tahun

Doa Akhir Tahun

Bacalah doa ini tiga kali saat menjelang akhir tahun baru Islam, bisa dilakukan sesudah ashar atau sebelum maghrib pada tanggal 29 atau 30 Dzulhijah. Dengan doa ini kita memohon ketika kita akan mengakhiri perjalanan tahun yang akan ditinggalkan ini akan mendapatkan ampunan dari Allah Swt. atas perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh-Nya, dan apabila dalam tahun yang akan ditinggalkannya itu ada perbuatan-perbuatan yang diridhai oleh Allah Swt yang kita kerjakan, maka mohonlah agar amal shaleh tersebut diterima oleh Allah Swt.

Doa Akhir Tahun

Bismillaahir-rahmaanir-rahiim

Wa shallallaahu ‘ala sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihii wa sallam.

Allaahumma maa ‘amiltu fi haadzihis-sanati mimmaa nahaitani ‘anhu falam atub minhu wa lam tardhahu wa lam tansahu wa halamta ‘alayya ba’da qudratika ‘alaa uquubati wa da’autani ilattaubati minhu ba’da jur’ati alaa ma’siyatika fa inni astaghfiruka fagfirlii wa maa ‘amiltu fiihaa mimma tardhaahu wa wa’adtani ‘alaihits-tsawaaba fas’alukallahumma yaa kariimu yaa dzal-jalaali wal ikram an tataqabbalahuu minni wa laa taqtha’ rajaai minka yaa karim, wa sallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin Nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa ‘aalihii wa sahbihii wa sallam
Artinya:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW,beserta para keluarga dan sahabatnya. Ya Allah, segala yang telah ku kerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-Mu, sedang kami belum bertaubat, padahal Engkau tidak melupakannya dan Engkau bersabar (dengan kasih sayang-Mu), yang sesungguhnya Engkau berkuasa memberikan siksa untuk saya, dan Engkau telah mengajak saya untuk bertaubat sesudah melakukan maksiat. Karena itu ya Allah, saya mohon ampunan-Mu dan berilah ampunan kepada saya dengan kemurahan-Mu.
Segala apa yang telah saya kerjakan, selama tahun ini, berupa amal perbuatan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan akan membalasnya dengan pahala, saya mohon kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah, wahai Dzat Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan, semoga berkenan menerima amal kami dan semoga Engkau tidak memutuskan harapan kami kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah.
Dan semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan atas penghulu kami Muhammad, Nabi yang Ummi dan ke atas keluarga dan sahabatnya.

Doa Awal Tahun
Bacalah doa ini tiga kali saat kita memasuki tanggal 1 Muharam. Bisa dilakukan selepas maghrib atau pun sesudahnya. Dengan doa ini kita sebagai Mu’min memohon kepada Allah Swt. agar dalam memasuki tahun baru ini kita dapat meningkatkan amal kebajikan dan ketaqwaan.
Doa Awal Tahun
Bismillaahir-rahmaanir-rahiim
Wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa ‘aalihi wa shahbihii wa sallam.
Allaahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwalu, wa ‘alaa fadhlikal-’azhimi wujuudikal-mu’awwali, wa haadza ‘aamun jadidun qad aqbala ilaina nas’alukal ‘ishmata fiihi minasy-syaithaani wa auliyaa’ihi wa junuudihi wal’auna ‘alaa haadzihin-nafsil-ammaarati bis-suu’i wal-isytighaala bimaa yuqarribuni
ilaika zulfa yaa dzal-jalaali wal-ikram yaa arhamar-raahimin, wa sallallaahu ‘alaa sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa ‘aalihi wa shahbihii wa sallam
Artinya:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya.
Ya Allah Engkaulah Yang Abadi, Dahulu, lagi Awal. Dan hanya kepada anugerah-Mu yang Agung dan Kedermawanan-Mu tempat bergantung.
Dan ini tahun baru benar-benar telah datang. Kami memohon kepada-Mu perlindungan dalam tahun ini dari (godaan) setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya. Dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak pada kejahatan,agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, Nabi yang ummi dan ke atas para keluarga dan sahabatnya.

Puasa Asyura

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendorong kita untuk banyak melakukan puasa pada bulan Muharam sebagaimana sabdanya,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara solat yang paling utama setelah solat wajib adalah solat malam.”[1]

An Nawawi -rahimahullah- menjelaskan, “Hadits ini merupakan penegasan bahawa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram.”[2]

Lalu mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diketahui banyak berpuasa di bulan Sya’ban bukan malah bulan Muharram? Ada dua jawapan yang dikemukakan oleh An Nawawi.

Pertama: Mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru mengetahui keutamaan banyak berpuasa di bulan Muharram di akhir hayat hidup Baginda.

Kedua: Boleh jadi pula baginda memiliki uzur ketika berada di bulan Muharram (seperti bersafar atau sakit) sehingga tidak sempat menunaikan banyak puasa pada bulan Muharram.[3]

Ibnu Rajab Al Hanbali mengatakan, “Puasa yang paling utama di antara bulan-bulan haram (Zulkaedah, Zulhijah, Muharram, Rajab) adalah puasa di bulan Muharram (syahrullah).”[4]

Sesuai dengan penjelasan Ibnu Rajab, puasa sunnah (tathowwu’) ada dua jenis:

1. Puasa sunnah mutlak. Sebaik-baik puasa sunnah mutlak adalah puasa di bulan Muharram.
2. Puasa sunnah sebelum dan sesudah yang mengiringi puasa wajib di bulan Ramadhan. Ini bukan dinamakan puasa sunnah mutlak. Contoh puasa ini adalah puasa enam hari di bulan Syawal.[5]

Di antara sahabat yang gemar melakukan puasa pada bulan-bulan haram (termasuk bulan haram adalah Muharram) iaitu ‘Umar, Aisyah dan Abu Talhah. Bahkan Ibnu ‘Umar dan Al Hasan Al Bashri gemar melakukan puasa pada setiap bulan haram.[6] Bulan haram adalah bulan Zulkaedah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab.

Puasa yang Utama di Bulan Muharram adalah Puasa ‘Asyura

Daripada hari-hari yang sebulan itu, puasa yang paling ditekankan untuk dilakukan adalah puasa pada hari ’Asyura’ iaitu pada tanggal 10 Muharram[7]. Berpuasa pada hari tersebut akan menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu. Abu Qatadah Al Ansori berkata,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Baginda menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Baginda juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Baginda menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.”[8]

An Nawawi -rahimahullah- mengatakan, “Para ulama sepakat, hukum melaksanakan puasa ‘Asyura untuk saat ini (setelah diwajibkannya puasa Ramadhan, -pen) adalah sunnah dan bukan wajib.”[9]

Sejarah Pelaksanaan Puasa ‘Asyura[10]

Tahap pertama: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa ‘Asyura di Makkah dan Baginda tidak memrintahkan sahabat yang lain untuk melakukannya.

Dari ’Aisyah -radhiallahu ’anha-, Baginda berkata,

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

”Di zaman jahiliah dahulu, orang Quraisy biasa melakukan puasa ’Asyura. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga melakukan puasa tersebut. Tatkala tiba di Madinah, Baginda melakukan puasa tersebut dan memerintahkan yang lain untuk melakukannya. Namun tatkala puasa Ramadhan diwajibkan, Baginda meninggalkan puasa ’Asyura. (Lalu Baginda mengatakan:) Barangsiapa yang mahu, silakan berpuasa. Barangsiapa yang mahu, silakan meninggalkannya (tidak berpuasa).”[11]

Tahap kedua: Ketika tiba di Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Ahlul Kitab melakukan puasa ‘Asyura dan memuliakan hari tersebut. Lalu Baginda pun ikut berpuasa ketika itu. Kemudian ketika itu, Baginda memerintahkan pada para sahabat untuk ikut berpuasa. Melakukan puasa ‘Asyura ketika itu semakin ditekankan perintahnya. Sampai-sampai para sahabat memerintah anak-anak kecil untuk turut berpuasa.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ’anhuma, Baginda berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.

“Ketika tiba di Madinah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendapati orang-orang Yahudi melakukan puasa ’Asyura. Kemudian Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bertanya, ”Hari yang kalian bepuasa ini adalah hari apa?” Orang-orang Yahudi tersebut menjawab, ”Ini adalah hari yang sangat mulia. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, dan Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam untuk bersyukur, maka kami pun berpuasa pada hari ini”. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lantas berkata, ”Kami lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa daripada kalian.”. Lalu setelah itu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.”[12]

Apakah ini bererti Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam meniru-niru (tasyabbuh dengan) Yahudi?

An Nawawi –rahimahullah- menjelaskan, ”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam biasa melakukan puasa ’Asyura di Makkah sebagaimana dilakukan pula oleh orang-orang Quraisy. Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tiba di Madinah dan menemui orang Yahudi melakukan puasa ‘Asyura, lalu Baginda shallallahu ’alaihi wa sallam pun ikut melakukannya. Namun Baginda melakukan puasa ini berdasarkan wahyu, berita mutawatir (dari jalur yang sangat banyak), atau daripada ijtihad Baginda, dan bukan semata-mata berita salah seorang dari mereka (orang Yahudi). Wallahu a’lam.”[13]

Para ulama berselisih pendapat apakah puasa ‘Asyura sebelum diwajibkan puasa Ramadhan dihukumi wajib ataukah sunnah mu’akkad? Di sini terdapat dua pendapat:

Pendapat pertama: Sebelum diwajibkan puasa Ramadhan, pada masa Tahap kedua, puasa ‘Asyura dihukumi wajib. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan Abu Bakr Al Atsram.

Pendapat kedua: Pada masa Tahap kedua ini, puasa ‘Asyura dihukumi sunnah mu’akkad. Ini adalah pendapat Imam Asy Syafi’i dan kebanyakan dari ulama Hanbali.[14]

Namun yang jelas setelah datang puasa Ramadhan, puasa ‘Asyura tidaklah diwajibkan lagi dan dinilai sunnah. Hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama sebagaimana disebutkan oleh An Nawawi -rahimahullah-.[15]

Tahap ketiga: Ketika diwajibkannya puasa Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan para sahabat untuk berpuasa ‘Asyura dan tidak terlalu menekankannya. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan bahawa siapa yang ingin berpuasa, silakan dan siapa yang tidak ingin berpuasa, silakan. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh ’Aisyah radhiallahu ’anha dalam hadits yang telah lalu dan dikatakan pula oleh Ibnu ’Umar. Ibnu ’Umar -radhiallahu ’anhuma- mengatakan,

أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَامَهُ وَالْمُسْلِمُونَ قَبْلَ أَنْ يُفْتَرَضَ رَمَضَانُ فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ.

“Sesungguhnya orang-orang Jahiliah biasa melakukan puasa pada hari ’Asyura. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pun melakukan puasa tersebut sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, begitu pula kaum muslimin saat itu. Tatkala Ramadhan diwajibkan, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan: Sesungguhnya hari Asyura adalah hari di antara hari-hari Allah. Barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan berpuasa. Barangsiapa meninggalkannya juga silakan.”[16]

Ibnu Rajab -rahimahullah- mengatakan, “Setiap hadits yang serupa dengan ini menunjukkan bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan lagi untuk melakukan puasa ‘Asyura setelah diwajibkannya puasa Ramadhan. Akan tetapi, Baginda meninggalkan hal ini tanpa melarang jika ada yang masih tetap melaksanakannya. Jika puasa ‘Asyura sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan dikatakan wajib, maka selanjutnya apakah jika hukum wajib di sini dihapuskan (dinaskh) akan bertukar menjadi mustahab (disunnahkan)? Hal ini terdapat perselisihan di antara para ulama.

Begitu pula jika hukum puasa ‘Asyura sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan adalah sunnah muakkad, maka ada ulama yang mengatakan bahawa hukum puasa Asyura beralih menjadi sunnah saja tanpa muakkad (ditekankan). Oleh kerana itu, Qais bin Sa’ad mengatakan, “Kami masih tetap melakukannya.”[17]

Isi pentingnysa, puasa ‘Asyura setelah diwajibkannya puasa Ramadhan masih tetap dianjurkan (disunnahkan).

Tahap keempat: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad di akhir umurnya untuk melaksanakan puasa Asyura tidak bersendirian, namun disertakan dengan puasa pada hari lainnya. Tujuannya adalah untuk menyelisihi puasa Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab.

Ibnu Abbas radhiallahu ’anhuma berkata bahawa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.

“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Kristian.” Lantas Baginda mengatakan,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah meninggal dunia.”[18]

Puasa 9 Muharram

Sebagaimana dijelaskan di atas (pada hadits Ibnu Abbas) bahawa di akhir umurnya, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bertekad untuk menambah puasa pada hari kesembilan Muharram untuk menyelisihi Ahlu Kitab. Namun Baginda sudah meninggal sehingga Baginda tidak sempat melakukan puasa pada hari itu.

Lalu bagaimana hukum puasa pada hari kesembilan Muharram? Berikut kami bawakan penjelasan An Nawawi rahimahullah.

Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahawa dianjurkan (disunnahkan) berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; kerana Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) berpuasa juga pada hari kesembilan.

Apa hikmah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menambah puasa pada hari kesembilan? An Nawawi rahimahullah melanjutkan penjelasannya.

Sebahagian ulama mengatakan bahawa sebab Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bepuasa pada hari kesepuluh sekaligus kesembilan agar tidak tasyabbuh (menyerupai) orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja. Dalam hadits Ibnu Abbas juga terdapat isyarat mengenai hal ini. Ada juga yang mengatakan bahawa hal ini untuk berhati-hati, siapa tahu salah dalam penentuan hari ’Asyura’ (tanggal 10 Muharram). Pendapat yang menyatakan bahawa Nabi menambah hari kesembilan agar tidak menyerupai puasa Yahudi adalah pendapat yang lebih kuat. Wallahu a’lam.[19]

Ibnu Rajab mengatakan, ”Di antara ulama yang menganjurkan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram sekaligus adalah Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad, dan Ishaq. Adapun Imam Abu Hanifah menganggap makruh jika seseorang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja.”[20]

Yang penting, kita lebih baik berpuasa dua hari sekaligus iaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Ini kerana di dalam melakukan puasa ‘Asyura ada dua tingkatan iaitu:

1. Tingkatan yang lebih sempurna adalah berpuasa pada 9 dan 10 Muharram sekaligus.
2. Tingkatan di bawahnya adalah berpuasa pada 10 Muharram saja.[21]

Puasa 9, 10, dan 11 Muharram

Sebahagian ulama berpendapat tentang dianjurkannya berpuasa pada hari ke-9, 10, dan 11 Muharram. Inilah yang dianggap sebagai tingkatan lain dalam melakukan puasa Asyura[22]. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ’anhuma. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْماً أَوْ بَعْدَهُ يَوْماً

“Puasalah pada hari ’Asyura’ (10 Muharram, pen) dan selisilah Yahudi. Puasalah pada hari sebelumnya atau hari sesudahnya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, Ibnu Khuzaimah, Ibnu ’Adi, Al Baihaqiy, Al Bazzar, Ath Thohawi dan Al Hamidi, namun sanadnya dhaif (lemah). Di dalam sanad tersebut terdapat Ibnu Abi Laila -yang nama aslinya Muhammad bin Abdur Rahman-, hafalannya dinilai buruk. Juga terdapat Daud bin ’Ali. Dia tidak dikatakan thiqah kecuali oleh Ibnu Hibban. Baginda berkata, ”Daud kadang-kala yukhti’ (keliru).” Adz Dzahabi mengatakan bahawa hadits ini tidak boleh dijadikan hujjah (dalil).

Namun, terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Abdur Rozaq, Ath Thohawiy dalam Ma’anil Atsar, dan juga Al Baihaqi, dari jalan Ibnu Juraij dari ’Atho’ dari Ibnu Abbas. Baginda radhiallahu ’anhuma berkata,

خَالِفُوْا اليَهُوْدَ وَصُوْمُوْا التَّاسِعَ وَالعَاشِرَ

“Selisilah Yahudi. Puasalah pada hari kesembilan dan kesepuluh Muharram.” Sanad hadits ini adalah sahih, namun diriwayatkan secara mauquf (hanya dinilai sebagai perkataan sahabat). [23]

Catatan: Jika ragu-ragu di dalam penentuan awal Muharram, maka boleh ditambahkan dengan berpuasa pada tanggal 11 Muharram.

Imam Ahmad -rahimahullah- mengatakan, ”Jika ragu-ragu mengenai penentuan awal Muharram, maka boleh berpuasa pada tiga hari (hari 9, 10, dan 11 Muharram, pen) untuk berhati-hati.”[24]

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com/

Perum Medang “masih” Lestari Kah…???

Assalamu’alaikum wr. wb

Salam sejahtera untuk kita sekalian…

Musim penghujan sudah tiba, perubahan-perubahan menarik di lingkungan perumahan medang lestari mulai terlihat. Kolam renang – kolam renang kecil banyak bermunculan.. mulai dari jalan masuk ke perumahan Medang Lestari (apa ada ya jalan masuk ke Perum Medang Lestari…???) samping Pom Bensin Mudang dan mungkin juga sampai ke lingkungan depan rumah bapak atau ibu penghuni Perum Medang Lestari…

Berikut sekilas penampakan-penampakan tersebut yg sempat diabadikan di tanggal 11 Juli 2010..

Itulah sekilas info wajah Perum Medang Lestari di musim hujan, barangkali ada kritik, saran atau foto yg lebih indah lagi…

Wassalam,

Opank

Bikers Activity Oleh Medanger’s

Assalamu’alaikum wr. wb

Salam sejahtera untuk kita sekalian…

Sekedar menginformasikan untuk para medanger’s dan warga di sekitar Perum Medang Lestari Tangerang bahwa, terkait dengan kegiatan bersepeda (biking activity), perlu disampaikan hal-hal sebaigai berikut;

  1. Bahwa medanger’s yang tertarik untuk mengikuti kegiatan bersepeda, cukup banyak.
  2. Beberapa kali sesama medanger’s bertemu di Cihuni, dan masih belum saling mengenal satu sama lain.
  3. Bahwa kondisi tersebut, tidak menutup kemungkinan (dan tentu akan sangat baik) jika sesama medanger’s saling mengenal dan akhirnya terkoordinir dengan baik.
  4. Bahwa salah satu cara / langkah awal untuk kebersamaan tersebut adalah bersama-sama berkumpul di tempat yang sama, pada waktu yang sama sebelum memulai kegiatan bersepeda.
  5. Ada usulan dari beberapa medanger’s bahwa utk point start adalah depan (eks) Indoniaga, pada jam 06.25 WIB, setiap hari minggu.
  6. Pada saat berkumpul bisa bercengkerama, saling mengenal atau warming up. Dan direncanakan bisa berangkat jam 06.30 WIB.
  7. Mengenai rute, biasanya Hill 1, Hill 2, Hill 3, Cihuni (track Cihuni) dan / atau track JPG Serpong. Apabila ada usul track lain sangat kami nantikan.
  8. Berikut beberapa nama yang bisa dihubungi lebih lanjut untuk kegiatan tersebut (mohon izin mencantumkan nama dan no hp);
  • P. Asep Kama 08176044523, dan P. Izuddin 08129755739 (RT 07 RW 06)
  • P. Adi Sulu 02168603071, P. Yeris 08129499068, P. Zulkarnaen 08176621739 (RT 04 RW 06)
  • P Dodik, 08121068443 (RW 08)
  • P Desqory (Qori), 08159887228 (RW 07)
  • P Sarwo (RW 2)
  • Apabila ada nama lain, bisa ditambahkan…

Demikian informasi berikut ajakan dan himbauan disampaikan. Barangkali ada kritik dan saran yang lain?

Wassalam,

ttd,

Imron Munfaat

08156609982

Draft Pernyataan Menyikapi Jalan Raya Legok Tangerang

Forum Masyarakat Tangerang Peduli Pembaharuan (FORMAT BARU)

Pernyataan Bersama

Menyikapi kondisi Jalan Raya Legok Tangerang yang menghubungkan wilayah dari Legok Kabupaten Tangerang dengan Area Islamic Karawaci Kota Tangerang yang tidak pernah ada perbaikan sebagaimana semestinya, kami perkumpulan warga masyarakat Tangerang yang tergabung dalam Forum Masyarakat Tangerang Peduli Pembaharuan (Format Baru) sepakat menyampaikan pernyataan bersama sebagai berikut;

  1. Bahwa sangat disayangkan, jalan propinsi yang menghubungkan daerah yang padat dengan pemukiman pendudukan baik pemukiman didalam maupun diluar kompleks perumahan, dari waktu ke waktu tidak kunjung ada perbaikan cenderung semakin banyak berlubang yang sangat berdebu ketika panas serta licin dan berlumpur ketika basah (hujan), serta terbukti sering menimbulkan kemacetan yang parah. Sungguh ironis, untuk kondisi jalan di wilayah Kabupaten/Kota Tangerang yang tidak jauh dari Ibu Kota Indonesia, DKI Jakarta.
  2. Bahwa kondisi jalan yang rusak parah dan tidak layak tersebut telah banyak menelan korban, baik luka-luka, cacat, bahkan beberapa diantaranya meninggal dunia. Tentu kondisi ini akan semakin menimbulkan efek negatif berganda (negatif multiplier effect), khususnya bagi warga di sekitar jalan raya tersebut.
  3. Bahwa kondisi tidak membaiknya jalan raya tersebut, selain kualitas jalan yang rendah (karena konstruksi dan perawatan yang tidak maksimal), juga disebabkan tonase kendaraan yang berlebihan dan cenderung melebihi kapasitas muatan (over capacity).
  4. Bahwa setelah memperhatikan dan mempertimbangkan hal-hal tersebut, perlu pengaturan lebih lanjut tentang;
    • Penguatan konstruksi jalan yang layak dan semestinya, sehingga kualitas jalan benar-benar bisa menghadirkan kenyamanan dan keselamatan bagi pengguna jalan dan warga sekitar.
    • Pembatasan ukuran kendaraan yang diperbolehkan dan dilarang melintas di sepanjang jalan tersebut.
    • Kontrol yang ketat atas daya muat kendaraan sehingga setiap kendaraan tidak melebihi kapasitas yang ditentukan.
    • Pembatasan jam operasional kendaraan-kendaraan tertentu, khususnya kendaraan pengangkut material (batu, pasir dan sejenisnya) agar tidak melintas di sepanjang jalan raya tersebut pada jam-jam sibuk (antara jam 06.00 – 08.30 WIB dan 17.00 – 21.00 WIB, pada saat karyawan / pegawai berangkat dan pulang kerja, serta antara jam 13.00 s/d jam 14.00 WIB pada saat siswa pulang sekolah.
    • Menyerukan kepada pengusaha-pengusaha bahan bangunan (pasir, batu, dll) dan pengusaha transportasi khususnya truk, agar tidak senantiasa mengeruk keuntungan semata dengan menggunakan kendaraan dengan ukuran besar dan mengangkut muatan melebihi kapasitas, tanpa memperhatikan risiko kerugian, ketidaknyamanan dan ancaman keselamatan kepada pengguna jalan yang lain atau warga sekitar jalan raya.
    • Kepada petugas pada instansi terkait agar menindak tegas setiap pelanggar ketentuan tersebut, dan pejabat yang berwenang harus menindak oknum petugas pada instansi yang diduga melindungi dan/atau kompromi dan/atau bekerjasama dengan setiap pelanggar.
  5. Menjadikan kondisi jalan yang layak, nyaman dan memperhatikan keselamatan (safety) tersebut sebagai salah satu target / indikator keberhasilan Kepala Daerah, sehingga dalam Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Tahunan Kepala Daerah harus dijelaskan secara obyektif dan transparan tentang kondisi aktual salah satu infrastruktur tersebut. Apabila dalam LPJ Tahunan tersebut menunjukkan bahwa seorang Kepala Daerah tidak bisa mengatasi persoalan perbaikan dan pengaturan di sepanjang jalan raya, maka Kepala Daerah dinilai gagal dan tidak mampu menjalankan tugas dan amanah dengan baik sehingga dengan legowo harus mengundurkan diri dan meletakkan jabatannya.

Pernyataan bersama ini kami sampaikan kepada yang kami hormati;

  1. DPRD Propinsi Banten di Banten,
  2. Gubernur Propinsi Banten di Banten,
  3. Walikota Tangerang di Tangerang,
  4. DPRD Kabupaten Tangerang di Tangerang
  5. Bupati Tangerang di Tigaraksa, Tangerang,
  6. Pers,
  7. Arsip

Pendukung Pernyataan Bersama

Perum Medang Lestari

Perum Pesona Karawaci

Perum Dasana Indah

Perum Legok Permai

Perum Legok Indah

Perum Karawaci Residence

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.